Penyakit Penting Tanaman Sayuran

Leave a comment

I. Penyakit-Penyakit Bawang

1. Bercak Ungu [Alternaria pori (Ell.)Cif]

Gejala

  • Terjadi becak kecil berwarna putih sampai kelabu dan melekuk. Jika membesar becak tampak bercincin dan warna agak keunguan.
  • ­Tepinya agak keunguan dan dikelilingi oleh zone berwarna kuning, yang meluas agak jauh ke atas dan ke bawah becak.
  • ­Pada cuaca lembab permukaan becak tertutup konidiofor dan konidium jamur yang berwarna hitam.
  • ­Ujung daun yang sakit mengering.
  • ­Becak banyak terdapat pada daun tua.

Penyebab Penyakit : Alternaria porri (Ell.)Cif

  • Dulu sering disebut Macrosporium porri Ell.

Daur Hidup

  • ­Patogen bertahan dari musim ke musim pada sisa-sisa tanaman dan sebagai konidium.
  • ­Jamur membentuk kondium pada malam hari.
  • ­Infeksi terjadi melalui mulut kulit dan luka.

Faktor2 Yang Mempengaruhi

  • ­Tanaman yang sehat kurang mendapat gangguan.

Pengendalian :

  1. Menanam bawang di lahan berdrainase baik.
  2. Pergiliran tanaman (rotasi)
  3. Penyemprotan fungisida tembaga, ferbam, zineb dan nabam yang ditambah sulfat seng.

2. Bercak Daun Cercospora (Cercospora duddiae Welles.)

Gejala

  • Mula-mula terjadi becak klorosis, bulat, berwarna kuning, berdiameter 3-5 mm.
  • ­ Becak paling banyak terdapat pada ujung sebelah luar daun.
  • ­Becak-becak sering berkumpul pada ujung daun, yang pada sebelah pangkalnya terdapat banyak becak yang terpisah, sehingga daun tampak belang.
  • ­Ujung daun mengering dan menjadi coklat kelabu.
  • ­Becak-becak yang terpisah mempunyai pusat berwarna coklat yang terdiri dair jaringan mati.
  • ­Pada waktu lembab di bagian daun yang mati terdapat bintik-bintik yang terdiri dari berkas konidiofor dengan konidium jamur.
  • ­Kadang-kadang bintik-bintik ini juga terjadi pada jaringan yang klorosis.

Penyebab Penyakit : Cercospora duddiae Welles.

  • ­Mempunyai konidium lurus atau agak bengkok, pangkalnya tumpul, meruncing ke ujung, hialin, mempunyai banyak sekat, berukuran 48-99 x 6-8 µm.
  • ­Konidiofor berwarna gelap, bersekat, berukuran 47-168 x 5-9 µm.

Pengendalian :

  1. Menanam bawang di lahan berdrainase baik.
  2. Pergiliran tanaman (rotasi)
  3. Penyemprotan fungisida tembaga, ferbam, zineb dan nabam yang ditambah sulfat seng.

3. Busuk daun (Perenospora destructor (Berk.)Casp.)

  • Busuk daun (downy mildew), sering disebut “embun bulu” atau “embun tepung” atau “penyakit tepung palsu”

Gejala

  • ­Kira-kira pada saat tanaman membentuk umbi lapis.
  • ­ Di dekat ujung daun timbul becak hijau pucat
  • ­Pada waktu cuaca lembab pada permukaan daun berkembang kapang yang berwarna putih lembayung atau ungu.
  • ­Daun segera menguning, layu dan mengering.
  • ­ Daun yang mati berwarna putih diliputi oleh kapang hitam.

Penyebab Penyakit : Perenospora destructor (Berk.)Casp.

Faktor2 Yang Mempengaruhi

  • ­Penyakit terutama berkembang pada musim hujan bila udara sangat lembab dan suhu malam hari rendah.

Pengendalian :

  1. Pemakaian benih yang sehat
  2. Jika penyakit banyak, setelah panen daun-daun dibakar. Tanah diberakan selama 3 tahun
  3. Penyemprotan fungsida

II. Penyakit-Penyakit Tanaman Solanaceae (Cabai, Terung dan Tomat)

A. Penyakit-Penyakit Cabai dan Terung

1. Becak Daun Cabai (Cercospora capsici Heals et Wolf.)

Gejala

  • ­Pada daun terdapat becak-becak bulat, kecil, kebasah-basahan. Bercak meluas hingga Ø 0,5 cm atau lebih, pusatnya berwarna pucat sampai putih dengan tepi yang lebih tua warnanya.
  • ­ Becak-becak yang tua berlubang.
  • Pada paprika tampak bahwa becak mempunyai jalur-jalur sepusat, yang tampak lebih jelas dilihat dari permukaan atas daun.
  • Apabila terdapat banyak becak, daun cepat menguning dan gugur, atau langsung gugur tanpa menguning lebih dulu.

Penyebab Penyakit : Cercospora capsici Heald et Wolf.

  • Konodium berbentuk gada panjang, bersekat 3-12, dengan ukuran 60-200 x 3-5 µm.
  • Konidiofor pendek, bersekat 1-3.

Daur Hidup

  • ­C. capsici terbawa biji dan mungkin bertahan pada sisa-sisa tanaman sakit selama satu musim.

Faktor2 Yang Mempengaruhi

  • Kurang terdapat pada musim kemarau dan di lahan yang berdrainase baik.
  • ­Penyakit dapat timbul di persemaian, meskipun cenderung lebih banyak pada tanaman tua.
  • ­Penyakit dibantu oleh cuaca yang panas dan lembab.

Pengendalian :

  • Penyemprotan fungisida tembaga, benlate (benomyl) dan topsin.

2. Antraknosa Cabai (Gloeosporium piperatum Ell. Et Ev dan Colletotrichum capsici (Syd.)Butl. Et Bisby

Gejala

­ Gloeosporium piperatum

  • Dapat menyerang buah yang masih hijau dan menyebabkan mati ujung (die back)
  • Mula-mula berupa bintik-bintik kecil berwarna kehitaman dan berlekuk, pada buah yang masih hijau atau yang sudah masak.
  • Bintik-bintik ini tepinya berwarna kuning, membesar dan memanjang. Bagian tengahnya menjadi semakin gelap.
  • Dalam cuaca lembab jamur membentuk badan buah dalam lingkaran-lingkaran sepusat, yang membentuk masa spora (konidium) berwarna merah jambu.
  • Penyakit masih berkembang terus pada waktu buah cabai disimpan atau diangkut.

Colletotrichum capsici

  • Mula-mula membentuk becak coklat kehitaman, yang meluas menjadi busuk lunak.
  • Pada tengah bercak terdapat kumpulan titik-titik hitam yang terdiri dari kelompok seta dan konidium jamur.
  • Serangan berat menyebabkan seluruh buah mengering dan mengerut (keriput).
  • Buah yang seharusnya berwarna merah menjadi berwarna seperti jerami.
  • Jika cuaca kering jamur hanya membentuk becak kecil yang tidak meluas. Tetapi kelak setelah buah dipetik, karena kelembaban udara yang tinggi selama disimpan dan diangkut, jamur akan berkembang dengan cepat.

Penyebab Penyakit :

­ Gloeosporium piperatum Ell. Et Ev.

  • Aservulus dalam sel-sel epidermal atau subepidermal terbuka, bulat atau panjang, berwarna kuning jingga atau merah jambu.
  • Konidium bersel satu, 15,5-18,6 x 5,4-6,2 µm, hialin, berbentuk batang dengan ujung membulat.

­ Colletotrichum capsici (Syd.)Butl. Et Bisb.

  • Mempunyai banyak aservulus, tersebar, di bawah kutikula atau pada permukaan, garis tenganya samapi 100 µm, hitam dengan banyak seta.
  • Seta coklat tua, bersekat, kaku, meruncing ke atas, 75-100 x 2-6,2 µm.
  • Konidium hialin, berbentuk tabung (selindris), 18,6-25,0 x 3,5-5,3 µm, ujung-ujungnya tumpul, atau bengkok seperti sabit.
  • Jamur membentuk banyak sklerotium dalam jaringan tanaman sakit atau dalam medium biakan.

Daur Hidup

  • Bertahan pada biji yang sakit.
  • ­ Bertahan pada sisa-sisa tanaman sakit. Seterusnya konidium disebarkan oleh angin.
  • ­C. capsici hanya terjadi melalui luka-luka.

Faktor2 Yang Mempengaruhi

  • ­ Kurang terdapat pada musim kemarau, di lahan yang mempunyai drainase baik dan gulmanya terkendali dengan baik.
  • ­ Perkembangan jamur ini paling baik pada suhu 20oC, sedangkan sporulasi G. piperatum pada suhu 23oC dan C. capsici pada suhu 30oC.
  • ­Buah yang mudah cenderung lebih rentan daripada yang setengah masak.

Pengendalian :

  1. Tidak menanam biji yang terinfeksi —- Biji terinfeksi diobat dengan thiram 0,2%.
  2. Funfisida, antara lain Antracol, velimek, Dithane M-45, dan lain-lain.

3. Busuk Buah (Phytophthora sp.)

Gejala

  • ­Pada buah cabai mula-mula becak kecil kebasah-basahan, berwarna hijau suram, yang meluas dengan cepat sehingga meliputi seluruh buah.
  • ­Buah mengering dengan cepat dan menjadi mummi.
  • Biji terserang, menjadi coklat dan keriput.

Penyebab Penyakit : Phytophthora capsici Leonian

  • Sporangiofor bialin, bercabang tidak menentu, bentuknya mirip dengan hifa biasa.
  • Bentuk dan ukuran sporangium sangat bervariasi, bulat sampai jorong memanjang, hialin, dengan 1-3 buah papil yang menonjol, 35-105 x 21-56 µm. Biasanya berkecambah membentuk zoospora, atau dalam keadaan yang kurang menguntungkan membentuk pembuluh kecambah.
  • Di dalam biakan murni, jamur membentuk oogonium, dengan Ø 25-35 µm.

Daur Hidup

  • P capsici dapat terbawa biji.
  • ­Bertahan cukup lama dalam tanah.

Pengendalian :

  1. Menanam cabai dan terung yang dengan jarak tanam yang cukup.
  2. Memberihkan gulma dan memelihara drainase.
  3. Buah-buah yang sakit dipetik dan dipendam.
  4. Jika perlu, tanaman disemprot dengan fungisida, misalnya Dithane M-45.

 

4. Layu Bakteri [Pseudomonas solanacearum (E.F.Sm.)E.F.Sm.]

­Akan dibahas pada pembahasan penyakit-penyakit penting pada tomat.

5. Mosaik

Gejala

  • ­Mula-mula tampak sebagai menguningnya tulang-tulang daun, atau terjadinya jalur kuning sepanjang tulang daun.
  • ­Daun menjadi belang hijau muda dan hijau tua.
  • ­Daun menjadi lebih kecil dan sempit daripada biasa.
  • ­Jika tanaman terinfeksi pada waktu masih sangat muda, tanaman terhambat pertumbuhannya dan kerdil.
  • ­Tanaman sakit menghasilkan buah yang kecil-kecil dan sering tampak berjerawat.

Penyebab Penyakit : Virus

  • ­Pada cabai : CMV, dll
  • ­Terung TRV, CMV, dll

Daur Hidup

  • CMV ditularkan secara mekanik dengan gosokan, maupun oleh kutu daun.
  • ­Bisa terdapat pada gulma disekeliling pertanaman cabai

Pengendalian :

  1. Memberantas gulma.
  2. Menangani semai-semai dengan hati-hati, sebelumnya tangan dicuci dengan cabun atau deterjen.
  3. Tanaman bergejala segera dicabut.

B. Penyakit-Penyakit Tomat

1. Busuk Daun [Phytophthora infestan (Mont.) d By]

Gejala

Pada Daun

  • Becak daun hitam kecoklatan atau keunguan mulai timbul pada anak daun, tangkai atau batang, dan bila keadaan membantu akan tumbuh dengan cepat, sehingga dapat menyebabkan kematian.
  • ­Pada becak yang meluas, bagian yang paling luar berwarna kuning pucat yang beralih ke bagian yang berwarna hijau biasa.
  • ­Pada sisi bawah daun fruktifikasi jamur yang berwarna putih seperti beludu tampak pada daerah peralihan antara pucat dan ungu.
  • ­Perkembangan bercak akan berkembang bila kelembaban nisbi rendah. Becak akan berkembangan kembali bila kelembaban meningkat.

Pada Buah

  • ­ Becak yang berwarna hijau kelabu kebasah-basahan meluas menjadi becak yang bentuk dan besarnya tidak tertentu.
  • ­Pada buah hijau becak berwarna coklat tua, agak keras dan berkerut.
  • ­Becak mempunyai batas yang cukup tegas, dan batas ini tetap berwarna hijau pada waktu bagian buah yang tidak sakit matang ke warna yang biasa.
  • ­Kadang-kadang becak mempunyai cincin-cincin.
  • Dalam pengangkutan, penyakit dapat menyebabkan busuk lunak dan beair, yang mungkin disebabkan oleh jasad sekunder.

Penyebab Penyakit : Phytophthota infestans (Mont.) d By.

  • Miselium sekunder membentuk sporangiofor pada permukaan becak.
  • ­Sporangiofor secara berturut-turut membentuk sporangium pada ujungnya yang tumbuh.
  • ­Sporangium yang disebarkan oleh angin biasanya tumbuh dengan membentuk spora kembara (zoospora), kacang-kadang tumbuh langsung dengan membentuk pembuluh kecambah.
  • ­Oospora sangat jarang dibentuk, bahkan di Indonesia belum pernah ditemukan, sehingga mungkin tidak memegang peranan dalam daur penyakit.

Daur Hidup

  • Sporangium jamur terutama disebarkan oleh angin.
  • ­ Jika jatuh pada setetes air pada tanaman yang rentan, sporangium akan mengeluarkan spora kembara (zoospora) yang dapat berenang, yang seterusnya membentuk pembuluh kecambah yang mengadakan infeksi.
  • ­Sampai sekarang belum diketahui dengan cara bagaimana Ph. Infestans pada tomat mempertahanakan diri dari musim ke musim.
  • Jamur juga dapat bertahan pada tanaman kentang dan terung yang biasanya terdapat di daerah penanam sayuran pegunungan.

Faktor2 Yang Mempengaruhi

  • ­ Suhu dan Kelembaban udara

Pengendalian :

  1. Pemilihan waktu tanam
  2. Pemakaian fungisida

2. Bercak Coklat (Alternaria solani Sor.)

Gejala

Pada Daun

  • Mula-mula pada daun timbul becak-becak kecil, bulat atau bersudut, coklat tua sampai hitam, sebesar kepala jarum sampai lebih kurang 4 mm.
  • Jaringan nekrotk sering tampak seperti kulit, mempunyai lingkaran-lingkaran sepusat.
  • Di sekitar becak nekrotik biasanya terdapat jalur klorotik (halo) sempit.
  • Jika pada daun terdapat banyak becak, daun akan cepat menjadi tua, layu atau gugur sebelum waktunya.

Pada Batang

  • Terjadinya becak gelap yang mempunyai lingkaran-lingkaran sepusat.
  • Jika infeksi terjadi dekat percabangan, cabang akan mudha patah jika buah-buah membesar.

Pada Semai / bibit

  • Menyebabkan busuk pangkal batang.
  • Infeksi terjadi setinggi permukaan tanah, meluas ke bagian bawah dan atas, dan membentuk kanker yang melingkari pangkal batang.

Pada Buah

  • Buah dapat terinfeksi pada waktu masih hijau ataupun sudah masak.
  • Pada buah terjadi becak coklat gelap atau hitam, biasanya tampak mengendap (berlekuk), yang dapat meluas ke seluruh permukaan buah.
  • Jaringan sakit tampak seperti kulit dan sapat membentuk massa hitam seperti beludru yang terdiri dari spora jamur pada permukaannya.
  • Biasanya infeksi terjadi didekat tangkai, melalui luka karena pertumbuhan atau luka-luka lain.

Penyebab Penyakit : Alternaria solani Sor.

  • Miselium berwarna gelap.
  • ­Konidiofor keluar dari jaringan tanaman yang sakit, berwarna gelap dan relatif pendek.
  • Konidium berparuh, berbentuk buah murbey, gelap, sendiri atau membentuk rantai dua-dua. Rata-rata ukurannya 200 x 17 µm.

Daur Hidup

  • ­Dari musim ke musim bertahan pada tanaman yang sakit, pada sisa-sisa tanaman sakit atau pada biji.
  • ­ Konidium mudah terlepas dan disebarkan oleh angin dan juga kumbang-kumbang.

Faktor2 Yang Mempengaruhi

  • ­Konidium berkecambah pada suhu 6-34oC. Suhu optimumnya 28-30oC. Dalam air pada suhu ini sudah berkecambah dalam 35-45 menit.
  • ­Faktor tanah maupun cuaca yang dapat melemahkan tanaman.
  • ­Tanaman yang berbuah banyak cenderung lebih rentan.

Pengendalian :

  1. Pemberian pupuk yang seimbang agar tanaman lebih tahan.
  2. Desinfeksi biji.
  3. Fungisida karbamat.

3. Layu Fusarium (Fusarium oxysporium f.sp. lycopersici)

Gejala

  • ­Gejala pertama adalah menjadi pucatnya tulang-tulang daun, terutama daun-daun sebelah atas, kemudian diikuti dengan merunduknya tangkai, dan akhirnya tanaman menjadi layu secara keseluruhan.
  • ­Kadang-kadang kelayuan didahului dengan menguningnya daun, terutama daun2 sebelah bawah.
  • ­Tanaman menjadi kerdil dan merana tumbuhnya.
  • ­Jika tanaman sakit dipotong dekat pangkal batang atau dikelupas dengan kuku atau pisau akan terlihat cincin coklat dari berkas pembuluh.
  • ­Pada tanaman yang masih muda, penyakit dapat menyebabkan tanaman mati mendadak.

Penyebab Penyakit : Fusarium oxysporium (Schlecht) f.sp. lycopersici (Sacc.)Snyd et Hand]

  • Miselium bersekat dan dapat tumbuh dengan baik pada bermacam-macam medium agar yang mengandung ekstrak sayuran.
  • Mula-mula miselium tidak berwarna, semakin tua warna menjadi krem, akhirnya koloni tampak mempunyai benang-benang berwarna oker.
  • Pada miselium yang lebih tua terbentuk klamidospora.
  • Jamur membentuk makrokonidium bersel, tidak berwarna, lonjong atau bulat telur, 6-15 x 2,5-4 µm.
  • Makrokonidium lebih jarang terdapat, berbentuk kumparan, tidak berwarna, kebanyakan bersekat dua atau tiga, berukuran 25-33 x 3,5-5,5 µm.
  • Fox f.sp lycopersici mempunyai banyak ras fisiologi (ex. Ras 1 dan ras 0) dan 2 galur (galur putih dan ungu).

Sehingga mempersulit usaha untuk memperoleh jenis tomat yang tahan.

Daur Hidup

­ Dapat bertahan dalam tanah.

  • Jamur mengadakan infeksi pada akar, terutama melalui luka-luka, lalu menetap dan berkembang di berkas pembuluh.
  • Pengankutan air dan hara terganggu menyebabkan tanaman menjadi layu.
  • Jamur menghasilkan likomarasmin ® menghambat permeabilitas membram plasma.
  • Sesudah jaringan pembuluh mati, pada waktu udara lembab jamur akan membentuk spora yang berwarna ungu pada akar yang terinfeksi.
  • ­Jamur dapat memakai bermacam luka untuk jalan infeksi.
  • ­Jamur dapat tersebar karena pengangkutan bibit, tanah yang terbawa angin atau air, atau oleh alat pertanian.

Faktor yang mempengaruhi :

  • ­Penyakit berkembang pada suhu tanah 21-33 oC. Suhu optimum 28 oC.
  • ­Kelembaban tanah yang membentu tanaman, ternyata juga membantu perkembangan penyakit.
  • ­Penyakit akan lebih berat bila tanah mengandung banyak nitrogen tetapi miskin kalium.

Pengendalian :

  1. Penanaman jenis tomat yang tahan (ex. Ohio MR 9 dan Walter).
  2. Fungisida tidak memberikan hasil yang memuaskan, tetapi pencelupan akar dgn benomyl memberikan hasil yang baik.
  3. Penggunaan mulsa

4. Layu Bakteri [Pseudomonas solanacearum (E.F.Sm.)E.F.Sm.]

Gejala

  • Gejala permulaan adalah layunya beberapa daun muda atau menguningnya daun-daun tua (daun-daun sebelah bawah).
  • ­Batang tanaman cenderung membentuk lebih banyak akar adventif sampai setinggi bunga.
  • ­Jika batang, cabang atau tangkai daun tanaman sakit dibelah, tampak berkas pembuluh berwarna kecoklatan.
  • ­Pada stadium penyakit lanjut, bila batang dipoting, dari berkas pembuluh akan keluar massa bakteri seperti lendir berwarna putih susu Þ dapat dibedakan dgn layu Fox.

Penyebab Penyakit : Pseudomonas solanacearum (E.F.Sm.)E.F.Sm

  • Bakteri berbentuk batang, 0,5 x 1,5 µm, tidak berspora, tidak berkapsula, bergerak dengan satu bulu cambuk, polar, aerob, gram negatif.
  • ­Koloni di atas medium agar keruh, berwarna kecoklatan, kecil, tida teratur, halus, mengkilat, kebasah-basahan.

Daur Hidup

  • ­Bakteri mengadakan infeksi melalui luka, termasuk luka karena nematoda.
  • Bakteri dan namatoda berinteraksi sinergistik
  • Bakteri dapat bertahan pada banyak tanaman pertanian (ex. Tembakau, cabai, kentang, dan kacang-kacangan).
  • ­Pupuk kandang yang baru (belum masak) dapat membawa bakteri ke ladang

Faktor yang mempengaruhi :

  • ­ Penyakit dibantu oleh suhu yang relatif tinggi, sehingga penyakit didataran rendah lebih berat.

Pengendalian :

  1. Pergiliran tanaman.
  2. Penyambungan : Pada batang bawah yang tahan.
  3. Antibiotik streptomycin.
  4. Menanam jenis tomat yang tahan.

5. Penyakit Mosaik Tembakau (Marmor tabaci Holmes.)

Gejala

  • ­ Pada daun terjadi becak-becak hijau muda atau kuning yang tidak teratur.
  • ­Bagian yang berwarna muda tidak dapat berkembang secepat hijau yang biasa, sehingga daun menjadi berkerut atau terpuntir.
  • ­Jika semai terinfeksi segera setelah muncul, semai dapat mati.
  • Jika tanaman terinfeksi setelah dewasa, pengaruhnya dapat lemah sekali.
  • Infeksi mosaik pada mungkin tidak menimbulkan gejala. Namun jika tanaman terinfeksi sejak awal, buah hanya kecil, bentuknya menyimpang dan pada dinding buah mungkin terdapat becak-becak nekrotik.
  • ­Jika mosaik tembakau dan mosaik ketimun mengadakan infeksi bersama-sama, pada batang dan buah akan terjadi garis-garis hitam yang teridir dari jaringan mati.

Penyebab Penyakit : virus Mamor tabaci Holmes, yang disebut juga Nicotiana virus 1

(Mayer) Smith.

Sampai sekarang dikenal dengan nama virus mosaik tembakau (tobacco )

  • Titik inaktivasi pemanasan 94oC, titik pengenceran terakhir 1 : 1.000.000. Dalam daun tembakau virus bertahan sampai puluhan tahun.

Daur Hidup

  • Virus menular dari tanaman ke tanaman secara mekanik, oleh tangan pekerja, ternak, atau alat-alat pertanian.
  • ­Virus tidak ditularkan oleh serangga.
  • ­Virus dapat bertahan pada sisa-sisa tanaman sakit dalam tanah sampai 4 bulan.
  • ­Virus dapat bertahan dari tahun ke tahun pada gulma famili Solanaceae.

Pengendalian :

  1. Tidak merokok selama bekerja di pertanaman tomat, terutama pada waktu pembibitan dan memindahkan tanaman.
  2. Penyiangan
  3. Pada waktu memanjatkan dan memangkas tanaman dilakukan dengan tidak terlalu banyak dipegang dan tidak dipegang dengan keras.

 

6. Penyakit Mosaik Ketimun (Marmor cucumeris var. vulgare Holmes.)

Gejala

  • ­Daun cenderung menjadi sempit, bahkan kadang-kadang menjadi seperti tali (shoestring, tali sepatu).
  • Daun juga mengeriting dan berwarna hijau muda.
  • ­Buah lebih kecil dari biasanya. Sering pembentukan buah pada bagian puncak batang terhambat.

Penyebab Penyakit : Marmor cucumeris var. vulgare Holmes atau Cucumis virus 1.

  • Sampai sekarang dikenal dengan nama virus mosaik ketimun (cucumber mosaic virus, cucumovirus = CMV).

Daur Hidup

  • Virus dapat menular secara mekanis, beberapa kutu daun (ex. Myzus persicae, Aphis gossypii, A. fabae dan A. maidis)
  • ­Mempunyai banyak tanaman inang dari banyak famili [ex. Ketimun (Cucirbitaceae), sawian (Cruciferae), terungan (Solanaceae) dan kacangan (Papilionaceae)].

Pengendalian :

  1. Persemaian harus bebas dari gulma dan kutu daun.
  2. Pencabutan tanaman sakit.
  3. mencuci tangan dengan sabun setelah memegang tomat atau gulma yang mungkin mengandung virus.
  4. Tidak menanam tanman yang dapat menjadi sumber virus (ex. Famili yang sama) didekat pertanaman tomat.
  5. Pengendalian gulma di pertanaman tomat.

Sumber: http://kliniktanaman.blogspot.com/2008/04/penyakit-penting-tanaman-sayuran.html

ANTRAKNOSA ATAU PATEK PADA TANAMAN CABAI

Leave a comment

Penyakit antraknosa atau patek pada tanaman cabai disebabkan oleh Cendawan Colletotrichum capsici Sydow dan Colletotrichum gloeosporioides Pens, penyakit antraknosa atau patek ini merupakan momok bagi para petani cabai karena bisa menghancurkan panen hingga 20-90 % terutama pada saat musim hujan, cendawan penyebab penyakit antraknosa atau patek ini berkembang dengan sangat pesat bila kelembaban udara cukup tinggi yaitu bila lebih dari 80 rH dengan suhu 32 derajat selsius biasanya gejala serangan penyakit antraknosa atau patek pada buah ditandai buah busuk berwarna kuning-coklat seperti terkena sengatan matahari diikuti oleh busuk basah yang terkadang ada jelaganya berwarna hitam. Sedangkan pada biji dapat menimbulkan kegagalan berkecambah atau bila telah menjadi kecambah dapat menimbulkan rebah kecambah. Pada tanaman dewasa dapat menimbulkan mati pucuk, infeksi lanjut ke bagian lebih bawah yaitu daun dan batang yang menimbulkan

busuk kering warna cokelat kehitam-hitaman.

Pengendalian Penyakit Antraknosa atau Patek:

* Melakukan prendaman biji dalam air panas (sekitar 55 derajat Celcius) selama 30 menit atau perlakuan dengan fungisida sistemik yaitu golongan triazole dan pyrimidin (0.05-0.1%) sebelum ditanam atau menggunakan agen hayati.

* Penyiraman fungisida atau agen hayati yang tepat pada umur 5 sebelum pindah tanam.

* Memusnahkan bagian tanaman yang terinfeksi, namun perlu diperhatikan saat melakukan pemusnahan, tangan yang telah menyentuh (sebaiknya diusahakan tidak menyentuh) luka pada tanaman tidak menyentuh tanaman/buah yang sehat, dan sebaiknya dilakukan menjelang pulang sehingga kita tidak terlalu banyak bersinggungan dengan tanaman/buah yang masih sehat.

* Penggiliran (rotasi) tanaman dengan tanaman lain yang bukan famili solanaceae(terong, tomat dll) atau tanaman inang lainnya misal pepaya karena berdasarkan penelitian IPB patogen antraknosa pada pepaya dapat menyerang cabai pada pertanaman.

* Penggunaan fungisida fenarimol, triazole, klorotalonil, dll. khususnya pada periode pematangan buah dan terutama saat curah hujan cukup tinggi.. Fungisida diberikan secara bergilir untuk satu penyemprotan dengan penyemprotan berikutnya, baik yang menggunakan fungisida sistemik atau kontak atau bisa juga gabungan keduanya.

* Penggunaan mulsa hitam perak, karena dengan menggunakan mulsa hitam perak sinar matahari dapat dipantukan pada bagian bawah permukaan daun/tanaman sehingga kelembaban tidak begitu tinggi.

* Menggunakan jarak tanam yang lebar yaitu sekitar 65-70 cm (lebih baik yang 70 cm) dan ditanam secara zig-zag ini bertujuan untuk mengurangi kelembaban dan sirkulasi udara cukup lancar karena jarak antar tanaman semakin lebar, keuntungan lain buah akan tumbuh lebih besar.

* Jangan gunakan pupuk nitrogen (N) terlalu tinggi, misal pupuk Urea, Za, ataupun pupuk daun dengan kandungan N yang tinggi.

* Penyiangan / sanitasi gulma atau rumput-rumputan agar kelembaban berkurang dan tanaman semakin sehat.

* Jangan menanam cabai dekat dengan tanaman cabai yang sudah terkena lebih dahulu oleh antraknosa / patek, ataupun tanaman inang lain yang telah terinfeksi.

* Pengelolaan drainase yang baik di musim penghujan.

Agen hayati yang sering digunakan dalam pengendalian antraknosa adalah : Actinoplanes, Alcaligenes, Agrobacterium Amorphospongarium, athrobacter dll, dan ini biasanya bisa didapat di balai perlindungan tanaman Deptan. Namun perlu diperhatikan bila kita menggunakan agen hayati sebaiknya kita tidak menggunakan pestisida kimia, karena akan menyebabkan kematian pada agen hayati tersebut

sumber:

Peringkat Kepedasan Cabe dari Seluruh Dunia

Leave a comment

Sumbawanews.com.- Serasa tidak nikmat jika santapan kita tidak dibumbui dengan pedasnya cabe, namun banyak yang belum menyadari ternyata cabe mempunyai berbagai jenis dengan tingkat kepedasan yang berbeda-beda

Berikut 10 peringkat kepedasan cabe yang tersebar diberbagai negara:


Peringkat 1:
Dan…..Akhirnya kita sampai pada juara kita kali ini, cabe pemegang rekor Guiness World Record sebagai cabe terpedas di dunia untuk saat ini. Pemenangnya adalah “Bhut Jolokia” atau “Naga Jolokia” atau juga “Ghost Chili”, bahkan ada juga yang menyebutnya “King Cobra Chile” Cabe ini memiliki Scoville Rating = 855.000 – 1.050.000 !! Walaupun jumlah rating cabe nya tetap 5, tapi Scoville Rating nya terpaut cukup jauh dengan runner up kita..

Bhut Jolokia

Cabe ini telah dikonfirmasikan oleh Guiness World Record sebagai cabe terpedas di dunia, menggantikan Red Savina. Cabe ini berasal dari daerah Assam di timur laut India, cabe ini juga tumbuh di Nagaland dan Manipur. Terdapat sedikit keraguan mengenai spesies dari cabe ini, apakah masuk ke dalam capsicum frutescens atau capsicum chinense, namun berdasarkan tes DNA (gaya euy…) diketahui bahwa ini adalah spesies hibrida, dengan dominan capsicum chinense dan sedikit capsicum frutescens.

Iklim tempat cabe ini tumbuh sangat berpengaruh terhadap tingkat kepedasan dari cabe ini. Kepedasannya dapat turun sampai 50% di tempat yang iklim nya lebih kering (lebih sedikit curah hujan). Ukuran panjang dari cabe ini antara 60 – 85 mm dan lebarnya 25 – 30 mm, warnanya merah oranye. Bentuknya mirip dengan habanero, namun memiliki kulit yang lebih kasar dan berkerut.

Cabe ini biasa digunakan untuk makanan pedas atau dimakan begitu saja (edun, cabe begini dimakan langsung? Gak kebayang). Satu saja biji dari cabe ini dapat membuat pedas yang menyakitkan pada mulut sampai 30 menit! Jadi harus ekstra hati – hati saat memegangnya! Kadang cabe ini juga digunakan untuk mengobati penyakit perut (Gak salah? Bukannya justru sakit perut? Mungkin yang sakit perut jadi langsung bablas…ke WC).

Bahkan di timur laut India, cabe ini dioleskan ke pagar atau dipakai sebagai bom asap untuk berjaga – jaga terhadap gajah liar! Bayangin, gajah aja takut!

Saking ganasnya cabe ini, ilmuwan di badan pertahanan India berencana untuk mengembangkan granat tangan memakai cabe ini, sebagai solusi yang tidak terlalu mematikan bagi para perusuh!

Peringkat 2:
Untuk runner up kita kali ini adalah sebuah cabe yang telah direnggut gelar juaranya. Cabe ini sempat masuk menjadi cabe paling pedas sedunia pada tahun 1994 sampai 2006, masuk ke Guinness World Record, namun rekornya telah dikalahkan. Scoville rating = 350.000 – 580.000

Red Savina Pepper

Cabe ini adalah varietas khusus dari cabe Habanero, yang dikembangbiakkan khusus agar mendapat cabe yang lebih pedas, besar dan berat. Frank Garcia di Walnut, California adalah pengembang cabe Red Savina ini. Metodenya masih rahasia dan tidak diketahui umum. Cabe ini memegang rekor sebagai cabe terpedas di dunia dari tahun 1994 sampai 2006 dan dicatat oleh Guinness World Record. Namun pada Februari 2007, cabe ini harus turun dari singgasananya, dikalahkan oleh yang ada saat ini di peringkat 1.


Peringkat 3:
Akhirnya, sampailah kita ke juara ke-3. Cabe disini tentunya sudah tidak main-main lagi pedasnya. Rating kepedasan pun sudah penuh. Kadar pedasnya sudah diatas rata-rata cabe rawit hijau yang biasa suka dimakan dengan gorengan, atau dijadikan sambel. Scoville rating = 100.000–350.000

Habanero Chili

Cabe ini adalah salah satu cabe yang amat pedas pada genus nya, yaitu capsicum. Saat mentah berwarna hijau, saat matang warnanya oranye atau merah. Namun kadang terlihat juga warna putij, coklat dan bahkan pink ! Ukuran panjang sekitar 2-6 cm. Cabe ini banyak berasal dari Yucatan dan daerah sekitar pantainya. Nama cabe ini berasal dari kota di Cuban, kota di La Habana. Walaupun tempat itu bukanlah tempat asalnya, namun cabe ini banyak deperjualbelikan disana.

Datil Pepper

Cabe ini adalah cabe yang benar-benar pedas ! Banyak diproduksi si St. Augustine, Florida, yang aslinya dibawa dari Cuba pada tahun 1880 oleh seorang pembuat jelly bernama S.B Valls. Kalau dilihat lihat bentuknya mirip seperti cabe rawit merah yang kadang disebut rawit domba, atau juga cabe Tom Yum.. Mungkin memang masih saudara dekat dengan ini, dan memang rawit merah lebih pedas dari rawit biasa… Hmm… ada kemungkinan..

Rocoto

Cabe ini berbentuk hampir bulat, banyak ditemukan di Peru, Bolivia, Chile, Argentina Utara dan Ecuador. Daging cabe ini tebal seperti paprika, namun cabe ini angat pedas! Bijinya warna hitam. Rocoto dapat tumbuh baik pada iklim sedang dan bahkan iklim dingin yang tidak memiliki musim panas yang benar benar panas, ini adalah salah satu perbedaanya dengan cabe pedas yang lain. Kebanyakan rocoto berwarna merah, namun terdapat pula yang berwarna kuning dan oranye di Karibia dan Meksiko.

Peringkat 4:
Next…. Di peringkat ini kita akan menemukan cabe kesayangan kita semua.. hehehe, yaitu cabe rawit ! Ternyata memang itu cabe cukup pedas juga, bahkan dibandingkan dengan cabe-cabe diluar sana. Di peringkat ini tingkat kepedesannya : Scoville rating = 50.000–100.000

Thai Pepper atau Cabe Rawit !

Thai Pepper dalam bahasa Indonesia: Cabe Rawit, Sunda:Cengek, Thailand Thai: พริกขี้หนู phrik khi nu, Tagalog: siling labuyo. Cabe ini banyak terdapat di Thailand dan tetangganya seperti Kamboja, Vietnam, Indonesia, dan sekitarnya. Ternyata orang Indonesia memang kuat pedas, buktinya cabe yang biasa “dimakan” sehari-hari saja berada di peringkat ke-4. Cabe favorit sebagai teman gorengan …Nyam ..!

Chile Tepin (Chiltepin)

Chiltepin adalah cabe liar yang tumbuh terutama di Amerika Tengah, Meksiko dan baratdaya USA. Kadang disebut sebagai “ibu dari semua cabe” karena dianggap sebagai spesies Capsicum annuum yang tertua. Nama Tepin berasal dari bahasa Nahuatl yang artinya “kutu”.
Pada tahun 1997, orang Texas menamai Tepin sebagai “cabe resmi asli dari Texas”, dua tahun setelah Jalapeno menjadi cabe resmi di Texas.


Peringkat 5:
Cabe – cabe di peringkat ini sepertinya sudah tidak bisa dibilang lembut lagi, tapi sudah mulai membakar tingkat kepedasannya. Memang jumlah “cabe” pada ratingnya tetap sama, tapi ingat, ini sudah satu peringkat lebih tinggi ! Scoville rating = 30.000 – 50.000

Cayenne

Merah Cabe ! Benar benar cabe yang mejunjukkan ke-cabe-annya melalui warnanya..
Cabe ini namanya Cayenne atau Guinea Pepper atau Bird Pepper. Cabe ini adalah cabe merah yang pedas, digunakan untuk bumbu masakan ataupun untuk keperluan medis. Namanya berasal dari kota Cayenne di French Guiana. Cabe ini digunakan untuk masakan pedas, baik dalam bentuk utuh ataupun bubuk. Bahkan cabe ini juga digunakan untuk herbal !

Aji Pepper

Mungkin ini salah satu cabe yang bentuknya paling aneh yang pernah saya lihat. Saya juga baru tau ada yang model seperti ini. Namun sepertinya cabe ini pedas juga, sebab sudah nangkring di posisi 5. Cabe ini dikenal juga dengan nama Peruvian hot pepper.

Tabasco Pepper

Inikah cabe rawit kita ? Ya… mirip mirip lah. Biasanya cabe ini dipakai untuk membuat saus tabasco. Panjang cabe ini sekitar 4 cm. Perubahan warna saat mau matang pertama berwarna kuning kehijauan dan pucat, lalu kuning, oranye kemudian menjadi merah. Cabe ini memiliki tingkat kepedasan sekitar 30.000 sampai 50.000 Scoville rate. (Itu bukan harnya per kg nya loh .. ) Cabe ini dalamnya tidak kering, tapi agak lembek dan berair.


Peringkat 6:
Nambah satu “cabe” lagi dalam rating tingkat kepedesan, jadi tiga buah “cabe”. Cabe disini bentuknya ada yang mirip dengan cabe rawit di Indonesia, tapi sebenarnya bukan, masih berbeda spesies, namun sama genusnya, yaitu Capsicum. Scoville rating = 10.000 – 23.000

Serrano Pepper

Cabe ini juga dari Meksiko, di daerah pegunungan Meksiko. Rasa pedasnya menggigit, lebih pedas dari jalapeño, dan biasanya dimakan mentah – mentah (dimakan sama gorengan apa bukan ya..??) Bentuknya memang mirip dengan cabe rawit dari Indonesia, tapi ini adalah spesies yang berbeda.

Chipotle

Sebenarnya ini adalah cabe jalapeño yang dikeringkan dengan cara diasap. Biasa digunakan untuk masakan a’la Meksiko.


Peringkat 7 :
Peringkat semakin tinggi, tingkat kepedesan semakin tinggi.. Semakit Hot terasa .. hehehe. Rating “cabe” di gambar ini sudah dua. Scoville rating = 2500 – 8000

Jalapeño

Bentuknya kaya terong, tapi itu bukan terong, itu cabe jalapeño. Cabe ini sudah termasuk panas, dan sudah dapat memberikan sensasi terbakar saat memakannya (pedas). Panjang cabe ini antara 5 – 9 cm. Cabe ini berasal dari Meksiko. Di Meksiko terdapat lahan seluas 160 km persegi yang hanya digunakan untuk menanam cabe jenis ini ! Daerahnya terutama di lembah sungai Papaloapan, sebelah utara Veracruz.

Guajillo

Cabe ini lagi – lagi dari Meksiko..! Sepertinya bukan cuma orang Indonesia saja yang favorit dengan pedas, tapi orang Meksiko juga. Cabe ini biasanya untuk membuat berbagai masakan di Meksiko.


Peringkat 8:
Cabe di peringkat ini agak pedes lah. Tapi bagi orang Indonesia yang biasa makan cabe rawit, cabe ini tidak ada apa2 nya. Memang dimana peringkat cabe rawit ? Ada kok, tenang aja hehe. Kalau menurut saya, cabe disini mungkin setara cabe merah biasa.. Scoville rating = 500 – 2500

Anaheim Pepper

Nama Anaheim sebenarnya nama adalah sebuah daerah. Nama itu diberikan karena ada seorang petani bernama Emilio Ortegayang membawa benih cabe ini ke daerah Anaheim pada awal tahun 1900. Sebutan lainnya adalah California Chile atau Magdalena. Varietas cabe ini yang tumbuh di New Mexico memiliki tingkat kepedasan yang lebih tinggi, yaitu sekitar 4500 sampai 5000 Scoville units.

Poblano

Poblano adalah termasuk cabe yang tidak terlalu pedas, berasal dari Puebla, Meksiko. Poblano yang telah dikeringkan bernama ancho chile. Namun kadang – kadang terdapat poblano yang lebih pedas dari biasanya. Jadi dari sebuah pohon, terdapat poblano dengan tingkat kepedasan yang sangat bervariasi. Cabe ini biasanya populer saat perayaan hari kemerdekaan Meksiko, yaitu sebagai bagian dari hidangan khusus yang disebut Chiles en Nogada, hidangan yang didalamnya berwarna hijau, putih dan merah, yang melambangkan bendera Meksiko.


Peringkat 9:
Cabe di peringkat ini sedikit pedas, mungkin bisa dibilang cuma anget2 aja.. Tapi saya sendiri belum pernah coba kedua cabe yang ada di peringkat ini. Scoville rating = 100 – 500

Pimento :

Pimento atau cabe cheri adalah cabe yang besar, merah berbentuk seperti hati, panjang antara 7 – 10 cm lebar 5-7 cm. Daging buahnya termasuk manis, berair, dan lebih beraroma dibandingkan dengan paprika merah. Namum beberapa varietas dari pimento ini cukup pedas. Pimento or pimentão sendiri adalah bahasa Portugis dari “bell pepper”.

Peperoncini


Peperoncini masih bersaudara dengan bell peppers dan chili peppers. Cabe ini juga dikenal sebagai Tuscan Peppers, Sweet Italian Peppers dan Golden Greek Peppers. Dalam bahasa Inggris Amerika disebut pepperoncini, sedangkan di Itali, cabe seperti ini disebut friggitello. Pepperoncini bukanlah pepperoni. Versi Yunani dari cabe ini lebih manis dan tidak sepahit varietas Itali nya yang tumbuh di Tuscany.


Peringkat 10 :

Cabe yang paling tidak pedas adalah paprika (bell pepper). Memang menurut saya juga cabe yang satu ini tidak ada rasa pedasnya sama sekali.
Scoville rating = 0


Bell Pepper
Bell pepper ini biasanya terdapat dalam 4 warna yaitu merah, kuning, hijau, oranye. Bell Pepper kadang dikelompokkan ke dalam cabe yang kurang pedas atau “sweet peppers”.
Namun terdapat paprika langka berwarna putih dan ungu, tergantung dimana mereka ditanam dan dari varietas apakah mereka. Paprika hijau berasa lebih pahit dibandingkan dengan paprika merah, kuning atau oranye.

sumber:

http://www.sumbawanews.com/berita/unik/ini-dia-peringkat-kepedasan-cabe-dari-seluruh-dunia.html

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.